FANDOM


Bab 3. Tarian Pedang Langit

Sinar dari cahaya matahari dan lembayung senja tampak sudah mulai condong ke barat.

Bu Eng menghentikan langkahnya didekat sebuah pohon, dia memutar tubuhnya kearah kotaraja dimana telah terjadi suatu peristiwa yang cukup mengerikan. Sedikit banyak dia telah mengetahui apa yang telah dia perbuat sebelumnya, yaitu membatai begitu banyak prajurit di istana tanpa dia kuasa untuk mencegahnya. Alangkah berdukanya hati si pemuda ini, sampai begitu lama hanya bisa mendesah dan menghela nafas berulang kali.

"Ah... yang terjadi biarlah berlalu...entah berapa hari aku meninggalkan kuil, si gendut pasti sedang menunggu-nungguku" Gumannya sambil berjalan perlahan. "Wah... jalan ke kuil harus lewat mana yah ? hmmm ... entahlah nanti juga sampai". Dengan pasti dia melangkah perlahan-lahan.

Mendekati senja si pemuda ini sampai di sebuah dusun kecil dia tak tahu apa nama dusun ini dan berada dimana dia sekarang. Si pemuda berjalan masuk sambil mukanya menengok kiri kanan,tapi Bu Eng menjadi heran, setiap ada orang yang berjumpa berpapasan dengan dirinya, maka orang itu pasti akan mengawasi dirinya dengan tatapan mata seperti heran atau bingung.

Bu Eng tidak memperdulikan orang-orang itu, tapi hatinya diam-diam membatin mengapa orang-orang itu selalu menatap dirinya dengan tatapan macam begitu.

Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan menunduk melihat keadaaan dirinya, seketika itu juga dia tertawa terbahak-bahak. Ternyata bajunya itu telah koyak-koyak dan tidak menyerupai baju lagi. Pakaiannya itu seperti juga seorang pengemis, tapi malah bajunya ini lebih hancur lagi, tanpa tambalan.

"Ha...ha...ha... ternyata baju ini sudah begitu amburadul ..Ah .. peduli amat yang penting aku harus segera tahu jalan pulang ke kuil" Begitu pikirnya lalu segera menuju ke warung teh yang terlihat sepi tak ada pengunjungnya di sebelah kanannya.

Pemilik warung itu acuh tak acuh waktu melihat kedatangan Bu Eng. Dia menduga Bu Eng adalah seorang pengemis yang ingin meminta derma. Maka dari itu pemilik toko tersebut memperlihatkan wajah yang bengis, kedua alisnya juga dikerutkan menandakan dia tidak senang hati.

"Jangan berdiri dimuka warungku, nanti pengunjung segan mendekati warungku!" kata pemilik warung itu denga suara yang kasar sekali. "Lekas enyah dari sini... aku belum lagi menerima uang, karena belum ada pembeli, lain kali saja!".

Mendengar kata-kata ini, Bu Eng menjadi mendongkol sekali, dia tahu bahwa dirinya diduga seorang pengemis yang ingin meminta derma. Tiba-tiba terpikir olehnya untuk mengerjai si pemilik warung.

"Kalau aku tak mau pergi... kau mau apa?" Balasnya sambil menyengir kuda.

"Hayo enyah... cepat menggelinding dari sini, bisa-bisa....!".

Tanpa menunggu pemilik warung itu selesai bicara, Bu Eng langsung saja nyelonong masuk dan duduk di salah satu bangku kosong di depan meja yang paling besar, sambil berlaga menjadi pembeli.

"Eh.. Eh... kau tak boleh duduk disini !" Teriak si pemilik warung dengan gusar Meskipun si pemilik warung sangat marah sekali tapi melihat postur tubuh Bu Eng yang tinggi dan kekar dengan pakaian yang robek-robrk memperlihatkan otot-otot yang kuat itu, tak berani menyentuh dan melakukan kekasaran secara fisik, hanya mulutnya saja mengomel tiada henti. Sekian lama mengomel akhirnya pemilik warung itu menyerah juga.

"Sebenarnya kau ini mau apa sih? ... kenapa mengganggu usahaku?" Kata si pemilik warung dengan nada yang cukup lembut, meskipun diwajahnya masih tersirat kekesalan yang dalam.

"Tak banyak yang kuinginkan, aku hanya ingin bertanya... kemana arah menuju dusun Kiang Cung atau Ke Sian Li Bio?. Aku harus segera kesana sebelum tengah malam ini" Kata Bu Eng kemudian tertawa menang.

"Apa??? kau gila yah...?? dusun kiang cung terletak disebelah barat dusun ini, jaraknya hampir 200 km.. dengan menunggang kuda saja memerlukan sehari semalam, apalagi dengan berjalan kaki...." Tiba-tiba saja si pemilik warung berhenti berbicara. Karena yang diajak berbicara alias si pemuda gembel itu tiba-tiba menghilang saja bagai di telan bumi.

Si pemilik warung itu mukanya menjadi pucat, hatinya merinding sekali. "Bagaimana mungkin pemuda itu menghilang?.. atau.. jangan-jangan... pemuda itu adalah jelmaan setan yang sedang menggangunya" "Ihhh... sial benar aku.. lebih baik kututup saja warung hari ini" Dengan tergesa pemilik warung itu membereskan warungnya dan bergegas pulang.

--demonking--

Begitu mendengar arah tujuannya, Bu Eng segera melesat pergi meninggalkan warung itu. Tanpa disadarinya dia telah memiliki ginkang yang luar biasa sekali di dukung dengan kedua sinkang yang terdapat dalam tubuhnya menjadikannya seorang yang memiliki kecepatan yang tiada bandingannya.

Tanpa terasa puluhan km pun sudah terlampaui, dari kejauhan terlihat kuil Sian Li tampak indah meskipun gelap malam mulai menutupinya. Bu Eng berlari memutar menuju ke belakang kuil. Begitu sampai di belakang kuil, dia melihat si gendut sedang melamun sendirian. Melihat siapa yang datang si gendut lalu saja berteriak setengah bersorak setengah heran melihat keadan Bu Eng yang tak keruan itu. "Heii... jangkung... ternyata kau yang datang ?... ku pikir kau tak akan kembali lagi"

"Ha ha ha ha ... kau tentunya merindukan si tampan ini yah ?" Kata Bu Eng sambil menunjuk jari pada hidungnya.

"Mana mungkin begitu.. aku hanya kasihan padamu.. melihat kaadaanmu kau pasti tersesat pulang dan kelaparan dijalan"

"Salah.. Eh.. Benar juga... mendengar kata "lapar".. perutku jadi minta diisi nih" Langsung saja dia nyelonong masuk ke dapur kuil.

"Eh.. nanti dulu.. ada banyak pertanyaan yang ingin tanyakan padamu" kata sigendut sambil mengejarnya

"Nanti saja setelah aku makan.. sejak kemarin perutku belum diisi"

Kuil itu memang kalau sudah malam sepi sekali, apalagi dapurnya. waktu malam semua penghuni kuil sudah berada dikamarnya masing-masing dan sebagian sudah ada yang tertidur.

Sesampai di dapur kuil, Bu Eng bergerak kesana kemari mencomot makanan yang ada di meja. Terus saja melahap masuk makanan tersebut hingga habis dua mangkuk besar.

"Ah... meskipun makanan vegetarian.. kalau perut lapar.. terasa enak juga" kata Bu Eng sambil menyandarkan punggungnya dikursi.

Si gendut yang dari tadi terdiam dan melengong melihat cara makan Bu Eng. Lalu berbicara "Sebenarnya kau ini makan? atau kesurupan ?"

Mendengar ini Bu Eng hanya bisa menyengir.

"Bu Eng... kemana saja kau beberapa hari ini?" tanya si gendut kemudian

"Aku ada urusan mendadak yang sangat penting, hingga tak sempat memberitahukannya padamu"

"Memangnya kau punya urusan penting segala?"

"Orang hebat sepertiku memang punya urusan penting" Kemudian Bu Eng menceritakan secara singkat kejadian dimana setelah makan pagi dia ditangkap seorang kakek gila yang kemudian membuatnya kesurupan sampai dia bertemu seorang kakek botak dikotaraja yang telah menolongnya.

Si gendut yang menama Ma Ceng itu mendengarkan cerita Bu Eng dengan terbengong-bengong seakan dia tengah mendengarkan dongeng. "Ah... masa kejadiannya seperti itu.. kau mengarang cerita yah?" Ma Ceng tak percaya dengan bualan temannya.

"Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas aku cape sekali nih.. sekarang yang kuperlukan hanya tidur"

"Ya.. baiklah akupun ingin tidur.."

Keduanya segera menuju kamar mereka, tanpa banyak bicara lagi. Malampun semakin melarut diperaduannya.

--demonking--

Matahari telah menampakkan dirinya di ufuk timur. Pagi yang cerah sekali, embun dirumpat

Pagi sekali Bu Eng dan Ma ceng sudah terbangun untuk melaksanakan tugas sehari-harinya yaitu memotong kayu bakar.

Terlihat banyak sekali kayu gelondongan yang sudah tepotong-potong berserakan.

"Bu Eng.. tampaknya kau semangat sekali hari ini" Kata Ma Ceng melihat temannya membelah kayu dengan cepat sekali.

"Ha ha .. entahlah.. yang jelas badanku terasa semakin sehat dan kekuatanku semakin meningkat saja.. mungkin tanpa mengunakan kapakpun aku sanggup membelah kayu-kayu ini" jawab si pemuda tinggi itu bangga atas besar kekuatannya.

"mana mungkin... yang ada tanganmu yang jadi belah" balas si gendut sambil tertawa.

"Lihat nih !" Bu Eng segera saja memperagakan maksudnya membelah kayu tanpa kapak.

"Brakkkk" Benar saja kayu itu terbelah dua di pukul tangan Bu Eng.

"Ha ha ha... benarkan kataku..." Bu Eng tertawa bangga melihat kayu itu terbelah.

Tiba-tiba saja terdengar seuara ribut di deoan kuil. Lalu dengan cepat Bu Eng melesat meninggalkan pekerjaannya dan menuju kedepan kuil, di susul oleh temannya yang berterik-teriak dibelakangnya meminta untuk di tunggu, karena larinya tertinggal jauh.

Para penghuni kuil sama semua keluar untuk melihat apa yang terjadi. Kemudian berkerumun di depan pintu kuil, tak seorangpun berani maju mendekati. Dari jauh terlihat seorang gadis muda sedang menghunus pedang terkepung oleh puluhan orang bersenjata. Dapat dilihat betapa si gadis begitu kelelahan. Tapi para pengepungnya masih tetap merapatkan kepungannya. Bu Eng melihat semua ini dengan jelas sekali. Perlahan dia berguman. "Wah... ternyata ada juga makhluk seindah itu hidup dimuka bumi ini..." Pandangannya secara langsung tertuju hanya pada si gadis yang tengah dikeroyok itu.

"Siapa gadis itu Bu Eng ... Kau mengenalnya?" Tanya si gendut yang sudah berada dibelakang Bu Eng dengan napas tersenggal-senggal.

"Entahlah... mungkin dewi khayangan sedang menampakkan diri". Jawab Bu Eng seenaknya, pandangannya seperti terpana tak pernah lepas dari si gadis.

Sementara itu sigadis menyapu sekeliling tempat itu dengan maja tajam, orang-orang yang mengepungnya berteriak-teriak dengan suara yang menyeramkan dan bengis sekali sambil menggoyang-goyangkan senjatanya sehingga pantulan cahaya matahari berkeredepan memantul diatas senjata-senjatanya.

Si gadis mengusap peluh didahinya, wajahnya yang cantik jadi tambah cantik sekali dalam pandangan BU Eng. "Siapa kalian ?" Bentak si gadis dengan suara tawar, "mengapa tanpa menyelidiki dulu kalian menuduhku sebagai pembunuh orang-orang kalian?".

"Jangan kau mencoba menyangkalperbuatanmu itu!, hhmmm... biarpun kau melarikan diri ke ujung duniapun, kami tetap akan mencarimu untuk melakukan pembalasan atas kekejamanmu yang tidak mengenal prikemanusaiaan!" Teriak salah seorang pengepung yang mungkin dia adalah pemimpin dari rombongannya itu.

Si gadis tertawa dingin "Apakah kau kira aku jeri pada kalian... huh... perlu ku tegaskan kembali pada kalian, pembunuhan yang terjadi bukan akau yang melakukannya, janganlah kalian menuduhku dengan membabi buta".

Lelaki brewok yang tadi berbicara itu tertawa keras. "Ha ha ha ha... biarpun kau mengemukakan berbagai macam alasan, kami tidak akan mempercayainya, menyerahlah dengan baik-baik agar kami dapat membawamu ke Kauw Cu kami!" kata lelaki brewok itu.

"Kalau kalian tak mempercayai perkataanku, baiklah, aku mau lihat apa yang bisa kau lakukan terhadap diriku!, rupanya kalian ini bangsat-bangsat tengik yang tidak tahu diri, terpaksa hari ini aku harus membuka jalan darah dan mengotori pedangku" kata sigadis dengan mendongkol.

Sehabis berkata, sigadis mencelat keasarh lelaki brewok itu. Pedangnya dengan cepat terjulur kedepan hendak menusuk dada lelaki itu. Tetapi lelaki itu melompat mundur ke belakang menjauhi, sedangkan beberapa pengeroyoknya menerjang kearah si gadis.

Dengan cepat selagi tubuhnya meluncur, pedangnya diputar untuk menangkis senjata-senjata yang mengarah padanya. Terdengar jerit kesakitan dari beberapa orang pengeroyok itu, yang dirasakan tangannya seperti sobek sehingga tak kuasa untuk mencekal senjata mereka, kena di tangkis si gadis.

Malah sebelum mereka mengetahui sesuatu apapun, tangan si gadis bergerak sekali, tiba-tiba saja pedangnya berkelebat kesana kemari seperti terbang saja, maka ambruklah tubuh mereka.

Lelaki berbrewok dan sisa kawanannya menjadi ciut nyalinya melihat sekali gebrakan saja kawanannya yang tadi menyerang tergeletak disana-sini.

"Siapa lagi berikutnya!" Tantang si gadis sambil tersenyum dingin.

"Lain kali kami datang lagi". Tanpa berbasa basi lebih lanjut lagi sibrewok dan sisa kawananya itu melarikan diri tunggang langgang.

"Huh ... dasar para pengecut.." kata sigadis sambil mendengus.

Si gadis kemudian menyarungkan kembali pedangnya, dan jalan hendak pergi berlalu meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba saja dari arah para penghuni, keluar seorang pemuda tinggi berlari sambil berteriak-teriak. Orang itu bukan lain adalah Bu Eng.

"Nona... tunggu dulu... Nona !!!"

Si gadis menahan langkahnya dengan alis berkerut dia menatap pemuda yang menghadang didepannya itu. "Mau apa kau menahanku?" Tanya si gadis dengan ketus.

"Se.se .be..nar.nar.nya.. a.a. ku.. eee..." Ketika berhadapan dekat dengan gadis itu Bu Eng tergagap, tak bisa mengeluarkan kata-kata dengan lancar karena begitu terpesonanya dia. "Baru kali ini aku melihat seorang gadis begini cantiknya..." Pikir Bu Eng dalam hati "Alangkah baiknya jika aku bisa berkenalan dengannya". Namun tak sepatah katapun keluar lancar dari mulutnya.

"Kau masih komplotan para pengecut tadi hah ?" tanya si gadis dengan nada galak melihat kelakuan Bu Eng.

"Bu...bu kan.. bu. bu. Kan..." Kembali Bu Eng tergagap.

"Kalau begitu minggirlah!" sigadis membentak sambil mendorongkan tangannya sedikit ketubuh Bu Eng.

Melihat dorongan ini dengan reflex Bu Eng meloncat kebelakang dengan cepat.

Begitu dorongannya tidak berhasil si gadis menjadi penasaran, lalu dia terus mengejar tubuh Bu Eng dengan cepat sekali sambil mengerahkan ginkangnya, tapi seperti tadi begitu dorongannya mengarah, Bu Eng segera meloncat kebelakang.

Karena penasaran sigadis tidak berniat lagi untuk mendorong tapi sekarang hendak benar-benar memukul dan menjatuhkannya. Tapi begitu banyak serangan yang dilakukan tak mampu walaupun hanya untuk menyentuh ujung baju pemuda itu. Ginkang yang selama ini dibangga-banggakannya tak mampu berbuat apa-apa terhadap Bu Eng. Tanpa terasa sigadis kembali mencabut pedangnya. Dan segera melancarkan serangannya.

Melihat sigadis mencabut pedang, Bu Eng menjadi kebingungan. "Tahan dulu nona!" Teriaknya disela-sela dia menghindarkan serangan pedang, untuk pertama kalinya dia tidak tergagap omongannya didepan si gadis. "Ini mungkin salah paham saja.. nona" Bu Eng kembali menambahkan sambil menghindari sebuah serangan.

Karena semua usahanya tidak membuahkan hasil dengan jengkel si gadis menghentikan serangannya. Bu Eng tentu saja bernapas lega sekali, ketika dia hendak berkata-kata lagi..Tiba-tiba saja sigadis mendahului berkata dengan keras.

"Kali ini kau tak mungkin bisa menghindar lagi!" Kemudian sigadis melemparkan pedangnya ke atas kemudian entah bagaimana tiba-tiba saja pedang itu seperti terbang melayang-layang seolah-olah sedang menari dengan tangan tanpa wujud.

Tentu saja hal ini membuat semua orang yang melihat termasuk Bu Eng terbengong-bengong seperti menonton pertunjukan sulap saja. Tanpa terasa Bu Eng berkata setengah berguman "Wah...'Tarian Pedang di Langit'..."

"Apa???... bagaimana kau tahu tentang Jurusku ini???" Tanya Sigadis sambil menghentikan kebolehannya dan menggenggam kembali pedangnya.

"Jurus apa??" Bu Eng heran melihat perubahan sikap si gadis.

"Jurus Tarian Pedang langit?" Tanya kembali sigadis

"Itu .... hanya...." Bu Eng tak melanjutkan perkataannya karena si gadis kembali berteriak.

"Cepat bicaralah... atau kalau tidak ku bunuh kau...!!!" Teriak sigadis.

Melihat kegusaran yang terjadi pada sigadis, timbul sifat binalnya untuk menggoda sigadis.

"Huh... ternyata kau terlalu meremehkan aku. Walaupun kau akan membunuhku aku selalu memegang janjiku"

"Janji apa?? dengan kakek berbaju serba putih itukan ??"

"Aku sudah janji tidak boleh bilang kalau aku sudah pernah bertemu kakek itu" Bu Eng tertawa dalam hati..akhirnya terjebak juga kau gadis cantik.

"Jangan macam-macam, cepat katakan dimana dia berada?" Teriak si gadis meskipun tidak sekeras dan segalak tadi.

"Aku tak mau bicara lagi, kalau sudah berjanji harus ditepati" Kata Bu Eng sambil berlagak serius."Tapi jangan Khawatir jika kau perkenalkan dirimu yang sebenarnya... akan ku katakan padamu tentang kakek itu". Tambah Bu Eng

Sigadis merenung sebentar kemudian berpikir "sialan.. sejauh ini aku menyelidiki tak ada kemajuan.. eh.. ketika dapat sedikit petunjuk ketemu orang seperti ini... sepertinya masalah ini tak mudah selesai dengan jalan kekerasan.. apakah harus kuberitahu ssiapa aku sebenarnya".

"Tak baik berbicara disini lebih baik kau ikut denganku.." Kata sigadis tiba-tiba.

"Baiklah .. tapi tunggu sebentar.. aku harus membawa barangku dulu.. jangan kemana-mana yah" Bu Eng kemudian berlari masuk kedalam Kuil.

Ad blocker interference detected!


Wikia is a free-to-use site that makes money from advertising. We have a modified experience for viewers using ad blockers

Wikia is not accessible if you’ve made further modifications. Remove the custom ad blocker rule(s) and the page will load as expected.

Also on FANDOM

Random Wiki