FANDOM


Bab 4. Perebutan Golok Hitam

Matahari sudah mulai naik keatas, udara sejuk pagipun sudah mulai memudar. Saat itu Bu Eng memang berniat mengikuti kemanapun tujuan perginya sigadis galak yang memikat hatinya itu. Sehingga dia membawa semua 'harta benda' yang dia punyanya tanpa meninggalkannya satupun. Tak lama kemudian Bu Eng keluar sambil membawa sebuah buntalan kecil.

"Bu Eng.. apakah kau benar-benar akan pergi?" Ma Ceng yang melihat kejadian itu segera menghampiri pemuda itu.

"Tentu saja, kapan lagi aku bisa berjalan bersama dengan seorang gadis secantik dewi khayangan itu" Jawabnya sambil mengedipkan mata.

"Maksudku.. kenapa kau membawa serta semua barang-barangmu juga?"

"Aku memang berniat untuk mengikutinya terus, jadi mungkin butuh waktu cukup lama.. Dialah wanita idaman yang kutunggu-tunggu selama ini.. Tak percuma aku mengabdi di kuil Sian Li.. Akhirnya Sian Li mengerti dan mengabulkan doa-doaku selama ini.."

"Kau takkan kembali ke tempat ini?" Tanya si gendut lagi dengan nada yang lesu.

"Mungkin.. Entahlah.. Ehh.. Engkau tak merasa kehilanganku bukan?" Bu Eng balik bertanya pada si gendut.

"Tentu saja tidak.. kau kan tahu diriku... malah aku merasa senang kau pergi.. aku kan takkan kena dijailli lagi olehmu.." Jawabnya sambil tertawa, namun jelas dimatanya terlihat kedukaan.

Melihat ini Bu Eng menjadi tertegun. Kemudian tangannya segera merogoh kedalam buntalannya dan mengeluarkan suatu benda.

"Baiklah... sebagai kenangan keberikan padamu salahsatu hartaku yang berharga" Kata Bu Eng sambil memberikan benda itu pada Ma Ceng.

Dilihatnya benda itu oleh sigendut. Benda berbentuk bulat lonjong sebesar kepalan tangan orang dewasa berwarna hitam kelam. Ditengahnya terdapat simbol-simbol seperti huruf yang berbentuk melingkar-lingkar. Kelihatannya tidak berharga sama sekali.

"Benda apa ini !?"

"Ini adalah benda pemberian ayahku dulu"

Karena penasaran dengan simbol-simbolnya Ma Ceng kemudian bertanya lagi.

"Simbol-simbol apa yang terukir di atas benda ini?"

"Akupun tak tahu.. namun di tempat asalku dulu terdapat banyak simbol-simbol seperti ini"

"Sebenarnya kau berasal darimana sih?"

"Akupu kurang jelas... yang pasti ayahku memang bukan berasal dari negeri ini"

"Memang sih.. melihat bentuk wajah, postur tubuh, rambut dan matamu yang coklat menguning.. tidak seperti orang..." Belum sampai beres si gendut mengoceh.. langsung begitu saja dipotong omongannya oleh Bu Eng.

"Ya ...Sudah .. aku berangkat dulu" Kata Bu Eng membalikkan badan sambil berlari keluar kuil.

Singkat kata dia kemudian berpamitan pada ketua dan orang-orang kuil sambil mengucapkan terima kasih.

Diluar kuil sigadis berdiri dibawah pohon yang cukup rindang sambil cemberut.

"Lama benar kau.. Apa sekalian mau pindah rumah?"

"Benar... benar.. Aku kan mau pindah kerumahmu.. he heh..." Jawab si pemuda sambil cengengesan

"Huh... Siapa bilang aku mau menampungmu segala?"

"Lhaa... katanya mau tahu tentang keberadaan kakek itu"

Mendengar ini sigadis terdiam. Sambil terus berjalan dia berkata. "Baiklah.. tak usah cerewet.. ayo cepat ikuti aku."

Bu Eng segera menyusul si gadis tanpa banyak bicara lagi.

Sampai begitu lama dan cukup jauh mereka berjalan ke arah timur, keduanya tampak terdiam, hanya sipemuda saja yang tampaknya bangga berandeng berjalan berdua dengan seorang gadis yang cantik, hingga sebentar-bentar dia tersenyum sendiri seperti orang gila.

Di sepanjang jalan mereka berpapasan dengan orang, selalu orang itu melihat dan memperhatikan mereka berdua. Tentu saja yang wanita amatlah cantik, sedang yang lelaki memang termasuk cukup tampan, tapi jika dilihat dari tingkahnya lebih mirip antara seorang manusia aneh atau setengah gila.

Gadis itu memang nampak cantik bukan main, wajahnya demikian cemerlang dengan garis-garis hampir sempurna, kulit mukanya halus licin seolah mengeluarkan kehangatan dan kesegaran yang mempesona, rambutnya hitam gemuk dengan anak rambut yang berjuntai dan alisnya yang hitam kecil melengkung seperti lukisan, sepasang matanya begitu bening dan tajam, bibirnya yang membasah merekah seperti seperti sekuntum bunga yang diselimuti embun pagi, hidungnya kecil mancung dan cupingnya dapat bergerak lembut. Memang dia adalah dara yang luar biasa cantik jelita dan nampak menonjol diantara yang lain.

Mereka tiba didepan perbatasan dusun Sui In Cung. Dusun itu tidak terlalu besar, tetapi padat penduduknya. Rata-rata penduduk didusun itu mempunyai mata pencaharian sebagai petani atau juga sebagi pengembala dan pemburu binatang buas di hutan.

Mereka tiba di perkampungan itu menjelang siang dan keadaan kampung itu sepi sekali. Cuaca di langit terlihat begiru suram padahal hari telah siang, awan hitam melingkupi seluruh permukaan langit, kelihatannya sebentar lagi akan turun hujan. Gadis itu melihat disebelah selatan dari perbatasan dusun Sui In Cung terdapat sebuah kelenteng kecil atau kuil kecil yang sudah tidak terurus, diajaknya Kwee Bu Eng menghampiri dan memasuki kelenteng itu. Agaknya gadis itu tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan sehingga dia mencari tempat agar dapat berteduh.

Tak nampak seorangpun, baik Hwesio ataupun Nikauw. Rupanya kelenteng ini memang sudah tidak terurus sama sekali karena sudah ditinggalkan penghuninya. Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar. Diluarpun kemudian turun hujan agak lebat.

Melihat tidak ada seorangpun disitu, sigadis lalu membalikan diri menghadap Bu Eng. "Cepat kau beritahu tentang kakek itu" Kata sigadis.

"Tunggu dulu, aku harus tahu dulu siapakau sebenarnya dan apa hubunganmu dengan kakek itu?"

"Tentang diriku kau tak perlu tahu.. dan aku masih kerabat dekat dengan kakek itu" Jelas sigadis

Bu Eng terdiam sejenak, pikirannya bergerak-berputar mencari cara agar gadis itu mau memperkenalkan dirinya dan tidak menganggap orang lain terhadap dirinya.

"Aku harus tahu dirimu yang sebenarnya.. aku tak mau membahayakan si kakek dengan memberitahukannya kepadamu"

Karena dipikir tak ada jalan lain lagi, sigadis akhirnya berkata, "Aku bernama In Hong margaku Pek, sedang kakek itu bukan lain adalah kakekku sendiri"

"Oh.. nama yang indah..sedangkan Umurmu?"

"Akhir tahun ini umurku genap 18 Tahun"

"Tempat tinggalmu?"

"Aku berasal dari sebuah partai perguruan silat dikawasan selatan daerah ini"

"Nama orang tua..? Nama kakekmu itu..? Hobi ? Bla..Bla.. Bla..?"

Singkat kata semua pertanyaan yang diajukan Bu Eng telah dijawab digadis, namun sekian lama sigadis tersadar bahwa dia agaknya tengah dipermainkan oleh pemuda itu. Kemudian terdiam dengan muka merah menahan marah matanya melotot kearah Bu Eng.

"Eh.. eh.. ada apa ?" Melihat perubahan ini Bu Eng terpaksa tidak bertanya sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Ketika sigadis yang sudah diketahui bernama Pek In Hong itu hendak melanjutkan kemarahannya. Tiba-tiba saja dari kejauhan telinganya yang tajam dan terlatih itu mendengar suara langkah kaki orang diantara lebatnya hujan mendekati mereka berdua, dengan langkah ringan dan gesit menandakan yang datang adalah orang yang mempunyai ginkang yang tinggi.

"Ada orang datang.." Tanpa banyak cakap Pek In Hong memegang tangan si pemuda itu dan bersembunyi dibelakang meja sembahyang.

"Mengapa kita harus sembunyi?" Tanya Bu Eng terheran-heran

"Suttt... jangan banyak tanya.. perhatikan saja.. mungkin saja orang itu salah-satu orang-orang yang selalu menggangguku selama beberapa hari ini.. bisa berabe kalo ke pergok mereka" Bisik Pek In Hong didekat telinga Si pemuda.

Bu Eng yang merasakan wangi harum keluar dari mulut sigadis itu ketika tadi berbisik, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala saja sambil terdiam keenakan, bagaimana tidak .. bisa begitu dekatnya dengan sigadis dan berjongkok berdesak-desakan berhimpitan tubuh. Rasanya ingin selamanya saja dalam posisi seperti itu bagi Bu Eng.

Semakin lama suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas mendekati kelenteng. Tak lama muncullah seorang lelaki berpakaian hitam-hitam memasuki kelenteng itu, lalu berbalik menghadap pintu dan terdiam agak lama. Agaknya dia sedang menunggu orang pula.

In Hong yang mengintip dibalik meja sembahyang dengan leluasa dapat melihat semuannya. Berturut-turut tampaklah beberapa orang yang memasuki klenteng itu, dan salah satunya adalah lelaki brewok yang tadi pagi memimpin orang untuk mengeroyoknya.

Melihat salah seorang yang dikenalnya In Hong siap memasang kupingnya untuk mendengarkan ada rencana apa dalam pertemuan tersembunyi ini.

Orang-orang itu tak berbicara sedikitpun, kira-kira hampir sepuluh menitan telah berkumpul hampir 15 orang. tiba-tiba salah seorang diantara mereka membuka mulut memecah kesunyian.

"Udara buruk bukan main.. aku sih setuju jika kita membatalkan rencana kita pada hariini..Mungkin Ji-ko juga tidak akan hadir"

"Tetapi jika memang kau mengemukakan pikiranmu itu dihadapan Ji-ko, kau bisa mampus dihajarnya" Kata salah seorang dari mereka.

"Ya..ya.. kau memang benar, Ji-ko selalu mementingkan diri sendiri..selalu saja mengeluarkan perintah tanpa memikirkan kesulitan-kesulitan kita" kata orang yang pertama itu dengan suara yang agak mendongkol.

"Benar.. Coba kalau kita memberi laporan bahwa kita mengalami kegagalan dalam tugas.. Tentu Ji-ko akan menghajar kita habis-habisan, masih untung hanya menghajar, tetapi jika dia sudah menghukum kita ..wah bisa sampai melayang jiwa kita ini". Kata suara lainnya menimpali perkataan lelaki itu.

Terdengar suara menggerutu dari beberapa orang yang membenarkan perkataan kawannya.

Hujan masih turun dengan derasnya diselingi dengan suara petir yang mengelegar keras.

Tiba-tiba saja di pintu masuk kelenteng tanpa diketahui kapan datangnya telah berdiri seorang lagi. Orang itu bertubuh kurus kering, wajahnya lonjong panjang, mukanya seperti muka tikus, matanya jelalatan dengan penuh kelicikan, namun memancarkan cahaya tajam, tentunya mempunyai tenaka Iweekang yang kuat.

Terdengar suara petir menggelegar lagi.

kelimabelas orang itu terlihat memberi hormat sekali pada orang yang baru datang itu.

Orang yang bermuka tikus itu kemudian berkata dengan nyaring. "Su Kiat !.. bagaimana hasil kerjamu tadi pagi.. cepat beri laporan?"

Lelaki brewok yang dipanggil Su Kiat dengan suara sedikit bergetar itu kemudian berkata. "Gadis itu ternyata lihai sekali.. sebagian dari kami telah dibunuhnya.. harap Jiko mengampuni kami"

"Apa kau bilang.. itu hanya alasanmu saja yang tidak becus bertindak..untuk urusan ini, Kauw Cu sepertinya mempunyai perhitungan sendiri.. kau beserta anak buahmu harus siap menghadapi hukuman" Kata simuka tikus dengan nada meninggi. Kemudian melanjutkan perkataannya. "Sudahlah.. ayo berangkat segera juga" Sambil melangkah lebih dulu keluar klenteng.

Mendengar ini tak seoranpun berani membantah dan ikut berangkat meninggalkan klenteng itu.

Setelah beberapa saat terdengar suara dibalik meja sembahyang. "Ayo kita juga pergi mengikuti mereka!" In Hong yang penasaran dengan rencana mereka itu berniat untuk mengikutinya.

"Untuk apa kita mengikuti mereka?"

"Aku penasaran dengan rencana yang akan mereka perbuat.. selain itu juga untuk mengetahui orang-orang macam apa yang selalu menggangguku itu"

Tanpa menunggu lagi.. In Hong lalu menyambar tangan Bu Eng.. dan menariknya keluar meskipun hujan sedang lebat-lebatnya.

Pek In Hong melihat orang-orang itu menuju kearah utara memasuki dusun Sui In Cung. Maka cepat-cepat In Hong menarik tangan Bu Eng sambil mengerahkan ginkangnya. Tak mempedulikan sebagian tubuhnya yang terguyur hujan. "Eh.. ngomong-ngomong siapa namamu?" Sambil menguntit, gadis itu sempat bertanya pada pemuda disampingnya itu yang sedari tadi terus saj menatap kearah dirinya.

"Namaku Kwee Bu Eng.. Nona" berkata sambil tersenyum.

"Hmm.. Akan ku panggil kau Bu Eng dan kau tak perlu memanggilku nona-nona segala.. kau kan sudah tahu namaku"

"Baiklah" Jawab Bu Eng Singkat, tanpa melepaskan sedikitpun tatapannya pada si gadis.


Dalam waktu yang singkat keenambelas orang itu telah sampai dimuka sebuah gedung yang mewah. In Hong dan Bu Eng cepat-cepat melompat keatas pohon rindang yang besar dan berdahan kuat didekat dinding gedung mewah itu. Pohon itu tinggi dan besar melampaui tinggi dinding gedung. Diatas dahan pohon itu, mereka berdua dapat dengan jelas melihat gerak-gerik keenambelas orang itu dengan leluasa.

Dilihatnya lelaki muka tikus itu menghampiri kearah dinding gedung itu. Dengan ringan tubuhnya melambung tinggi dan hinggap diatas tembok. Setelah mengawasi sesaat keadaan gedung,lalu melompat masuk kedalam gedung. Kelimabelas yang lainnya juga mengikuti perbuatan si muka tikus. Mereka bergantian melompati tembok dan masuk kedalam gedung.

Begitu berada didalm taman dari gedung itu, kelimabelas orang itu menyebar, dan mengeluarkan semacam kantong dari balik baju mereka. Kemudian mereka menaburkan bubuk halus berwarna hitam dari kantong tersebut disekitar taman.

In Hong mengerutkan dahinya melihat kelakuan mereka, dia tahu bahwa bubuk pasir yang mereka taburkan itu adalah semacam pasir beracun.

Setelah menaburkan pasir beracun itu kelimabelas orang itu kemudian mundur kebelakang sedang lelaki muka tikus itu tetap berdiri tegak ditengah halaman taman dengan diguyur hujan deras.

"Cia Sun Kiang !!" Terdengar lelaki kurus itu membentak dengan suara yang keras sekali. "Hari ini adalah hari kematianmu.. keluarlah untuk menerima hukuman yang akan dijatuhkan Kauw Cu kami"

Keadaan kembali sunyi, hanya air hujan yang masih deras menyiram bumi.

"Hei .. Cia Sun Kiang !! .. apakah kau sekarang berubah menjadi seorang pengecut?" teriak sikurus lagi.

Tetap tak terdengar sahutan dari dalam.

"Kalau memang kau telah berubah menjadi seorang pengecut yang jeri menghadapi kami, maka jangan salahkan kami akan menyerbu kedalam".

Suara petir terdengar menggelegar, sehingga keadaan menjadi tegang sekali.

Tetapi, tak lama kemudian, diantara ketegangan suasana seperti itu, terdengar suara tertawa perlahan, tetapi sangat panjang dan terdengar jelas sekali, meskipun bunyi hujan saat itu terdengar berisik sekali.

"Rupanya didalam hujan lebat seperti ini, masih ada pula orang-orang yang mau berkunjung, kalau mau masuk, masuklah.. lohu menunggu didalam sini". Terdengar sahutan dari dalam.

Sikurus yang menjadi pimpinan rombongan itu mendengus dan ketawa dingin. "ha..ha..ha.. apakah kau benar-benar telah berubah menjadi seorang berpenyakitan, sehingga tak berani bertempur dengan kami diantara air hujan". Lelaki itu sengaja rupanya ingin memancing kemarahan orang yang berada didalam ruangan itu.

Tetapi rupanya perkataan sikurus tadi tak dipedulikan oleh orang yang berada didalam rumah. Sikurus jadi mendongkol sekali, tadinya dia ingin memancing kemarahan orang She Cia itu, agar mau keluar dari rumah, dan mengharapkan pasir beracunnya akan banyak membantu dirinya.

Sikurus lalu menoleh kearah salah seorang anakbuahnya yang paling dekat dengan dirinya, dan memberi kode agar segera maju menyerbu kedalam. Oarng yang diberi perintah itu mengangguk, walaupun dia agak jeri, tapi karena diperintah oleh sikurus, terpaksa dengan mengendap-endap mendekati pintu rumah itu.

Goloknya siap terhunus ditangannya, dan dia maju perlahan-lahan. Sampai akhirnya waktu disampai dekat pintu orang itu menerjang dan bermaksud mendobrak pintu itu. Sedang tubuhnya menerjang pintu, terdengar suara "Srettt" dan orang yang menerjang itu tampak terpental kebelakang sambil menjerit-jerit dan bergulingan ditanah.

Sikurus terkejut melihat ini, cepat-cepat dia menghampiri anakbuahnya itu ketika diperiksa ternyata anakbuahnya itu telah terserang oleh sebuah biji wijen pada matanya. Lalu menotok urat dan jalan darah didekat kelopak matanya, sehingga perasaan sakit itu berkurang.

Sikurus kemudian berdiri dan menghampiri kearah pintu. "Cia Sun Kiang, mengapa kau sebagai seorang pendekar yang mempunyai nama dikalangan Kang Ouw bisa melakukan perbuatan hina semacam ini, menyerang kami dengan secara menggelap?". Bentaknya dengan gusar.

Terdengar suara dari dalam. "Hmm... apakah kalian juga tidak berhati busuk?, apa kalian duga aku tidak tahu kalian telah menaburi halaman dan tamanku dengan pasir beracun, lebih baik kalian enyah dari rumahku ini sebelum kalian semua kukirim ke neraka".

Wajah sikurus sesaat berubah, kaget karena siasatnya berhasil diketahui orang itu. Sikurus kemudian memberi aba-aba agar semua anakbuahnya serentak menerjang masuk, dia mengibaskan tangannya sambil berseru. "Terjang saja.. siapa yang kalian jumpai bunuh semuanya !".

semua anakbuahnya dikerahkan kecuali seorang yang terkena serangan dimatanya, menerjang masuk kedalam rumah itu.

Seperti tadi kembali terdengar suara "Srett" dan tampak beberapa biji wijen menyambar, mereka berusaha sebisa mungkin untuk mengelak. Tetapi tujuh orang anakbuah sikurus kena terserang pada lengan dan dadanya, sehingga mereka terjengkal dan berteriak kesakitan.

Sikurus berteriak dengan marah sekali, maka tanpa mempedulikan bahaya dia menerobos masuk. Anak buahnya yang selamat tersisa tujuh orang, juga telah menerobos masuk.

Waktu mereka berada didalam, mereka jadi berdiri terpaku sesaat, karena ditengah-tengah ruangan itu hanya tampak seorang lelaki tua yang duduk bersila menantikan kedatangan mereka.

Wajah lelaki tua itu terlihat pucat, dia memelihara jenggot yang panjang dan telah berubah putih semua. Waktu melihat kedatangan sikurus yang berhasil masuk menerobos keruangan tengahnya bersama beberapa anakbuahnya, Kakek itu kemudian tersenyum "Lohu kagum dengan keberanian kalian, rupanya kalian benar-benar taat pada Kauw Cu kalian, sehingga rela menerima kematian, asal dapat melaksanakan tugas yang diberikan".

"Orang She Cia!" Bentak sikurus akhirnya. "lebih baik kau menyerahkan benda pusaka yang menjadi hak Kauw Cu kami itu.. Kauw Cu tentu akan memberi keringanan asalkan kau mau bekerja sama dengan kami".

Cia Sun Kiang tertawa dingin, tidak terlihat sedikitpun perasaan jeri pada dirinya, walaupun dirinya telah terkepung. "Apakah kau kira Lohu takut mampus?.. Jangan harap aku akan menyerahkan Benda pusaka itu kepada kalian"

"Cia Sun Kiang.. Apakah kau benar-benar ingin membentur Kauw kami?" tegur sikurus dengan suara yang bengis.

"Lebih baik kalian pulang kembali kemarkasmu, sampaikan kepada Kauw Cu kalian, bahwa aku menantang dia agar dia datang sendiri untuk menghadapiku". Kata Sun Kiang dengan tawar.

"Gunakan pasir beracun!!" seru sikurus kemudian dengan suara nyaring dan dia telah mengeluarkan sebuah kantong berisi pasir beracun.

Anakbuahnya segera mengikuti perbuatan sikurus.

Wajah Cia Sun Kiang jadi berobah hebat waktu melihat bungkusan pasir itu, tapi dia masih berlaku tenang, dengan cepat dia meraih biji-biji wijen yang berada di dekat kakinya. Dengan cepat ia lontarkan biji-biji itu, terdengar suara jeritan dan tampak beberapa anakbuah sikurus roboh, kemudian untuk mengelakan diri dari taburan pasir beracun itu dia telah mengelinding dari tempat duduknya, tubuhnya berputar dengan cepat, kemudian terjengkang doyong kebelakang.

In Hong yang melihat cara mengelak itu jadi heran, mengapa dia tidak melompat atau berdiri saja? bukankah dengan berdiri dia kan lebih mudah mengelak?. Tetapi setelah melihat kearah kaki Sun Kiang itu ternyata adalah seorang yang cacat, kedua kakinya buntung sebatas dengkul, dan sebab itulah dia bertempur dengan cara begitu.

Melihat orang orang cacat begitu, dikepung dengan menggunakan pasir racun, bergolak darah kependekaran Pek In Hong, dan dia sudah mau menerjang untuk membantu kakek itu. Namun teringat bahwa dirinya tidak mempunyai obat penawar racun itu, dia tak mungkin bisa melompat karena jaraknya terlalu jauh, sehingga mau tak mau harus melewati taman yang penuh dengan pasir beracun itu.

sikurus dan kawan-kawannya telah menelan obat penawarnya, sehingga walaupun mereka terkena pasir beracun itu tidak berakibat apa-apa.

Pertempuran itu berlangsung cukup lama. Seluruh ruangan telah tertaburi pasir beracun. Akhirnya tidak ada ruang sedikitpun untuk Sun Kiang mengelak lagi, sehingga kakek itu menghentikan perlawnannya dengan penuh kecewa dan sedih.

"Baiklah... aku akan menyerah..."

"Kalau begitu cepat serahkan pusaka itu" Bentak sikurus.

Dari punggungya dia mengeluarkan sebilah golok berwarna hitam. Panjangnya kira-kira hanya mencapai 50 cm-an namun lebar dan terlihat tebal. "Golok ini adalah barang mustika yang langka sekali, Beberapa hari lalu benda ini kehilangan telah majikannya.. Apakah akan terjadi banjir darah lagi dalam perebutan benda pusaka ini??" Setengah berguman sikakek itu seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Cepat kau berikan pada kami" bentak sikurus lagi tak sabaran.

"Bagaimanapun aku sudah diamanatkan untuk menjaga benda ini, sampai menemukan pemilik yang pantas.. namun apadaya.." Terdengar sedih sekali perkataan si kakek itu.

Dengan asal-asalan Sun Kiang mengangsurkan Golok hitam itu, sikurus tidak sabar dengan sikap kakek itu, dia maju selangkah lagi sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil Golok.

Ad blocker interference detected!


Wikia is a free-to-use site that makes money from advertising. We have a modified experience for viewers using ad blockers

Wikia is not accessible if you’ve made further modifications. Remove the custom ad blocker rule(s) and the page will load as expected.

Also on FANDOM

Random Wiki