FANDOM


     Stasiun Gambir, Jakarta, pukul 10.30.....
     Sejak pagi tadi hujan deras telah mengguyur Jakarta, namun penumpang stasiun kereta api itu tetap saja ramai seperti biasa. Orang-orang yang ingin melakukan perjalanan dengan kereta api sama sekali tidak terpengaruh oleh hujan deras. Sebenarnya sih, bukan tidak terpengaruh, melainkan karena mereka harus melakukan perjalanan karena ada urusan penting di luar kota. Seperti halnya dengan Junarif, si pemuda aneh. Junarif adalah salah satu calon penumpang menuju Bandung. Ia adalah seorang wartawan amatir dari sebuah majalah gosip di Bandung.
      Dua hari yang lalu ia ke Jakarta untuk meliput demo besar-besaran di Jakarta. Karena keasikan memotret dan meliput berita, Junarif terpisah dari rekan-rekannya dan tertinggal di Jakarta. Akhirnya ia pulang ke Bandung sendirian dengan menumpang kereta api. 
     Junarif tampak bosan menunggu kereta api tumpangannya tak kunjung tiba, padahal jadwal keberangkatannya adalah 09.30, berarti telah lewat satu jam dari jadwal berangkat. Sambil iseng-iseng, pemuda aneh ini jelalatan matanya. Seorang wanita cantik di seberang sana menarik perhatiannya. Wanita cantik itu rupanya seorang ibu muda, karena ia membawa kereta dorong yang didalamnya terdapat bayi yang sedang tidur. Perawakannya sangat seksi menggiurkan, dibalut pakaian yang terbuka disana-sini memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang putih mulus. 
     Naluri kecabulan Junarif bekerja. Ia memandangi wanita seksi itu dengan pandangan matanya yang tajam sambil mengilar. Wanita seksi tersebut sedang mengobrol dengan seorang temannya yang juga cantik menawan. Namun kecantikan temannya ini kalah oleh kecantikan si ibu muda tadi. 
     Si ibu muda sangat asik mengobrol dengan temannya yang cantik itu, hingga ia lengah tidak memperhatikan kereta dorong bayinya. Entah karena apa, kereta dorong itu tiba-tiba menggelinding sendiri. Mungkin seseorang telah menyenggolnya. Kereta dorong berisi bayi itu terus saja menggelinding menuju rel kereta sementara sebuah kereta api sedang menuju kesana dengan kecepatan tinggi. 
     Orang-orang yang menyaksikan menjerit keras. Saat itu si ibu muda tadi baru sadar bahwa ia kehilangan kereta dorong bayinya. Untuk menjangkaunya telah terlalu jauh pula. Sementara kereta dorong berisi bayi itu sudah hampir terjatuh di rel kereta api. Namun rodanya tersangkut sesuatu dan menahan kereta dorong tersebut. Namun sial bagi si bayi dalam kereta dorong. Bayi itu terlempar, tepat pada saat sebuah kereta api melintas. Ibu muda itu menjerit sejadi-jadinya.
     Junarif segera tersadar dari lamunan cabulnya. Tanpa buang waktu ia segera bergerak. Terjadi suatu kejadian aneh. Gerakan Junarif ini secepat kilat, benar-benar gerakannya bagai kilat. Ia menyambar bayi itu dan meletakannya di pinggir rel. Kemudian ia kembali ke tempatnya semula. Semua kejadian itu hanya berlangsung dalam sepersekian detik. Tak ada seorang pun yang melihat Junarif. Mereka mengira bayi itu tertabrak kereta api dan terlempar hingga terlempar ke pinggir. Itu semua karena gerakan Junarif terlalu cepat untuk diikuti mata biasa.
     Orang banyak segera mengerumuni bayi itu. Seseorang memeriksanya dan mengatakan bahwa si bayi masih hidup, bahkan tak kurang suatu apapun. Ibu si bayi sudah pingsan sejak tadi. Temannya segera membawa si bayi dan ibunya ke ruang kesehatan. 
     Junarif hanya geleng-geleng kepala dari jauh. Ia segera mengeluarkan catatannya dan menulis: 'Bayi kecil selamat setelah tertabrak kereta api....' Ia menulis untuk majalah gosipnya, Majalah Gosip Pria, Gantengin.
     Tidak berapa lama, kereta api yang ditunggunya pun tiba. Junarif segera memasuki keretanya menuju ke Bandung. Ia segera menemukan kursinya dan segera duduk setelah membereskan barang-barangnya di bagasi atas kursinya. Tiketnya diselipkan di tempat yang gampang terlihat dan gampang dijangkau jika kondektur memeriksa tiketnya sementara ia tidur. Ia pun tertidur pulas di kursinya sambil ngorok membuat penumpang lain kebisingan. 
     Entah sudah berapa lama Junarif tertidur sampai ia mendengar suara merdu di telinganya.
     "Bolehkah saya duduk disini? Apa bangku ini kosong?"
     Jun membuka matanya. Tampak olehnya seorang gadis cantik jelita. Tentu saja ia tak akan menolak. Dan selanjutnya ia berjanji takkan tidur selama sisa perjalanannya untuk menikmati kecantikan gadis tersebut. Jun pun mempersilakan gadis itu dengan senang hati dan gadis itu pun duduk setelah memperlihatkan senyumnya yang menawan.
     "Hai, nama saya Ayumi," berkata gadis itu memperkenalkan dirinya. 
     Hai juga. Saya Junarif. Err.... Nama anda seperti nama orang Jepang?!" Junarif senang sekali bisa mengobrol dengan gadis cantik itu.
     "Ya, ayah saya orang Jepang. Tapi ibu saya orang Sunda."
     "Oh, pantas saja kamu sangat cantik. Gadis blasteran biasanya cantik-cantik."
     "Ah bisa aja menggombal sama orang yang baru dikenal," kata si gadis sambil tertawa renyah. Kemudian mereka pun mengobrol ringan. 
     "Oh ya, kata si gadis serius, dengan kecepatan bagai kilat yang kamu miliki, kenapa kamu masih menumpang kereta api? Bukankah kamu cuma butuh waktu beberapa detik saja untuk melakukan perjalanan Jakarta Bandung?"
     Dahi Junarif berkerut. Ia kaget dengan perkataan si gadis. Namun ia menjawabnya dengan pura-pura tenang, "Apa maksudnya?"
     Tidak usah pura-pura tidak mengerti. Kita tahu apa yang kita bicarakan," si gadis tersenyum. Senyumnya tetap menawan seperti tadi, "Aku tahu kemampuan supermu."
     "Haha.... Lalu kau mau aku bergabung dengan sekolahmu? Sekolah Khusus Shakti?" Junarif bertanya.
     "Jadi kamu juga tahu siapa aku?" Ayumi malah balik bertanya.
     "Tidak sulit untuk mengenalimu. Apa saja yang kamu tahu tentang aku?"
     "Kau memiliki kekuatan sakti, bukan saja kecepatan kilat. Tetapi tubuhmu tidak mempan segala jenis senjata. Kekuatan fisikmu melebihi kekuatan seratus orang. Bisa mengangkat benda seberat kereta api ini lengkap dengan kedelapan gerbongnya beserta seluruh penumpangnya," Ayumi menjelaskan.
     "Tampaknya keteranganmu terlalu berlebihan. Junarif tersenyum.
     "Tidak juga," Ayumi melanjutkan, "Aku tahu darimana kekuatanmu berasal. Lima tahun yang lalu, ketika kamu meliput berita di pedalaman Gunung Galunggung secara tidak sengaja kamu mendapatkan sebuah belati pusaka. Kamu mendapatkan kekuatan supermu dari Belati tersebut. Tidak hanya itu, Belati Pusaka yang disebut Belati Wasiat Dewa itu ternyata adalah tempat dikurungnya seorang Jin wanita cantik yang sekarang menjadi hambamu."
     "Wah!" Junarif terperanjat, "Kamu naksir aku ya? Koq kamu lebih hapal diriku daripada aku terhadap diriku sendiri? Kamu ngefans aku ya?"
     Digoda seperti itu, Ayumi hanya tersenyum manis. Sementara Junarif hanya bisa menghela napas.
     "Kamu ingin aku ikut ke Sekolah Shakti?" Junarif kembali menanyakan hal itu.
     "Aku tahu tak ada orang yang bisa memaksamu, kecuali kau sendiri yang menghendakinya!"
     Saat itulah tiba-tiba terdengar suara ribut. Pintu di gerbong sebelah belakang mereka mencelat mental sejauh setengah gerbong. Seorang lelaki berlari dengan cepat sementara di belakangnya mengikuti dua orang berpakaian hitam-hitam. 
     Berhenti!" salah seorang dari dua orang berpakaian hitam itu berteriak. Tangan kanannya mengeluarkan pistol sementara tangan kirinya mengeluarkan tanda pengenal polisi. Rupanya dua orang itu adalah dua orang polisi yang sedang menyamar. 
     Orang yang dikejar mereka menghentikan langkahnya dan membalikan badannya perlahan-lahan. Matanya terlihat merah. Sebuah seringai tersungging di bibirnya seolah mengejek kedua polisi itu.
     "Angkat tanganmu!"
     Pria itu menggerakan tangannya seolah mau mengangkat tangan, tapi kemudian dihantamkan ke depan. Dua buah kekuatan tak terlihat menghantam kedua polisi itu. Keduanya terpental jauh terjatuh tumpang tindih. Si penjahat melarikan diri ke gerbong berikutnya. Entah kemana tujuannya. Ayumi bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri kedua polisi tadi. Setelah memastikan keduanya tidak apa-apa, Ayumi segera mengejar ke arah si penjahat tadi lari.
     Junarif segera menghampiri kedua polisi. Salah seorang dari mereka patah tulang iganya. “Siapa sebenarnya penjahat itu, pak polisi?” Saat itu beberapa orang mengerumuni mereka dan beberapa petugas kereta menolong mengobati mereka.
     “Dia adalah Babeh, penjahat pemerkosa anak-anak di bawah umur,” berkata salah seorang polisi itu. “Gadis yang menyusulnya berada dalam bahaya.”
     Junarif kaget mendengarnya. Jadi itulah sosoknya Babeh, penjahat yang belakangan ini terkenal. Beberapa waktu lalu, media dikejutkan dengan tertangkapnya seorang penjahat pemerkosa anak-anak di bawah umur bernama Babeh. Ia memiliki ilmu sesat yang sangat tinggi. Kejahatannya memperkosa anak-anak ini pun konon untuk menyempurnakan ilmu sesatnya. Penjahat ini sempat ditangkap oleh polisi dan dipenjarakan. Penangkapannya dibantu oleh beberapa paranormal kelas satu di tanah air. Namun beberapa hari yang lalu, orang ini kabur dari penjara. Rupanya dua polisi itu sedang mengejar buronan ini dan hampir menangkapnya disana. Namun ilmu sesat si penjahat terlalu tinggi sehingga kedua polisi ini malah terluka sendiri. Senjata api sama sekali tidak berguna melawan si penjahat.
     Junarif berpikir sesaat. Kemudian ia mengikuti ke arah mana Ayumi dan si penjahat pergi. Ia berlari menyusul mereka, namun tidak menggunakan kemampuan lari kilatnya. Sambil berlari ia meraih Belati Wasiat Dewa di pinggangnya. Sambil mengusap hulu belati itu, ia berbisik, “Jinny, ada sesuatu yang berbahaya terjadi. Jangan tidur saja.”
     Terdengar suara merdu di telinga Junarif, “Kau ingin aku menolong gadis itu? Kurasa dia akan baik-baik saja.”
     “Bukan begitu, penjahat itu bisa membahayakan keselamatan penumpang kereta lainnya.”
     “Baiklah,” sesosok wanita sangat cantik muncul di sebelah Junarif. Tak ada yang bisa melihatnya kecuali Junarif sendiri.

Ad blocker interference detected!


Wikia is a free-to-use site that makes money from advertising. We have a modified experience for viewers using ad blockers

Wikia is not accessible if you’ve made further modifications. Remove the custom ad blocker rule(s) and the page will load as expected.

Also on FANDOM

Random Wiki