Wikia

Cerita Silat

Gambar di Langit Kamar/Sebuah Kerangka di dalam Gua

Bicara0
150pages on
this wiki

< Gambar di Langit Kamar

Sebuah Kerangka di dalam Gua

HUJAN SALJU TURUN amat derasnya. Angin menderu, meniup bunga salju yang berterbangan memenuhi jagad sebatas mata memandang. Permukaan apapun yang bisa ditempel oleh kembang salju telah ditutup bahkan ada yang setebal dua belas inci. Tiada warna lain selain putih dimana mana.

Udara yang sudah begitu dingin, bertambah dingin dengan tiupan badai yang melanda kencang di daerah pegunungan Kun Lun San. Kebanyakkan orang di cuaca beku seperti ini, jika tidak gila tentu lebih memilih tinggal di rumah menikmati sup panas kuah ayam. Yang tidak waras pun secara naluriah tentu sudah duduk menikmati hangatnya perapian api unggun.

Di dekat tepian jurang yang dalam, nampak sesosok tubuh kecil berlari terhuyung huyung dengan napas terengah engah yang bercampur nada ketakutan. Sering sekali kepalanya menoleh kebelakang ke sumber suara salak serombongan anjing yang menggonggong saling bersahutan.

Bunga es yang menimpa wajahnya meleleh jatuh bercampur dengan keringat yang dalam tempo sebentar membeku menjadi butiran kristal. Wajah yang dimiliki seorang bocah berusia sekitar sebelas tahun, berwajah tampan dengan bibir pucat membeku, campuran dari rasa takut yang sangat dan kedinginan.

"Budak she Siauw, tidak ada gunanya kau melarikan diri!" terdengar teriakkan nyaring yang diiringi hentakkan tenaga dalam yang cukup tinggi, menggetarkan bunga salju di pepohonan yang meranggas.

Siauw Liong, bocah itu tidak menjawab. Sambil menggigit bibirnya ia menjejakkan kaki di tumpukan salju yang tebal. Diam-diam ia menghela napas lega melihat jejak kakinya dengan cepat telah ditutup oleh lebatnya hujan salju.

Setelah membiarkan sejenak dadanya terisi oleh udara dingin yang membekukan, bocah itu pun kembali mengempos semangatnya untuk kembali berlari menyusuri tepi jurang itu. Sesekali kakinya terpeleset dalam salju yang belum benar-benar padat. Ngeri apabila sampai ia terjatuh ke dalam jurang yang dalam itu. Jurang yang gelap dan tidak terlihat dasarnya.

"Budah she Siaw, jangan kau pikir salju yang turun dapat menghilangkan jejakmu! Anjing-anjing pemburu ini tak dapat kau tipu!" kembali terdengar suara yang menggelegar tadi. Kali ini suara itu diiringi oleh salakan beberapa ekor anjing. Rupanya jarak mereka sudah cukup dekat sehingga suara anjing-anjing itu dapat terdengar sekarang.

Tak menghiraukan ancaman itu Siaw Liong kembali memacu langkah dan semangatnya. Jatuh bangun dan juga luka yang diperolehnya akibat salju beku yang mengeras tak lagi dihiraukannya. Lari dan lari, hanya itu yang ada dalam pikirannya.

Tiba-tiba angin dan salju yang bertiup pun berhenti. Langit pun menjadi terang dan jernih. Seakan-akan ingin menyaksikan akhir dari perburuan itu.

"Itu dia, di sana!" teriak seseorang sambil menunjuk titik kehitaman di pinggiran jurang.

Gonggongan anjing-anjing pun semakin keras. Mereka seakan-akan sudah mencium amisnya darah dari korban buruan mereka.

Dengan benak dipenuhi rasa cemas tersusul membuat Siaw Liong kehilangan pengawasannya terhadap keadaan sekitarnya sehingga beberapa sulur akar pohon yang tersembunyi di balik putihnya salju terlanjur menjegal keras kaki kanannya.

"Krek...", entah itu suara akar atau kakinya kah yang patah tak terpikirkan lagi olehnya dihujam rasa sakit kakinya yang teramat sangat. Ia pun tersungkur jatuh hilang keseimbangan tepat ke jurang yang ada di hadapannya.

Wajahnya pusat pasi dengan mata terbelalak menanti ajal.

---demonking---

Lama Juga Siauw Liong tertidur di dalam lembah tersebut, entah sudah berapa lama dia berada disitu, sekujur tuhbunya terasa sakit semua.

Dia membuka kelopak matanya dan memandang sekeliling lembah itu, dilihatnya pada saat itu hari sudah mendekati senja, keadaan didalam lembah terasa dingin menusuk tulang, sedang hujan saljupun tak kunjung reda. Rupanya dia tidak terbanting jatuh karena tersangkut dahan di cabang pohon yang cukup besar.

Tak lama kemudian setelah kesadarannya pulih, Siauw Liong merayap turun dari pohon yang menyelamatkannya itu. Si bocah lalu berjalan mencari-cari jalan keluar, tapi sudah begitu lama mencari-cari di sekitar jurang itu tidak dapat ditemukan jalan keluar, untuk mendaki keatas jelas tidak mungkin. Kemudian dia duduk dan berpikir sambil termenung. Dilihatnya sekeliling ternyata tak ada satupun benda yang bisa dimakan. "Ah, sampai berapa lama aku bisa bertahan disini, sementara perutku sudah minta diisi" Memikirkan itu perutnya spontan berbunyi kriut, tubuhnyapun ikut juga menggigil akibat dinginnya udara disekitarnya.

Tiba-tiba saja tanpa sengaja dari kejauhan terlihat sebuah terowongan kecil, si bocah lalu menghampiri. Diluar udara terasa dingin sekali, tanpa terasa sedikit-dikit dia memasuki terowongan itu. Terowongan itu makin jauh makin sempit, sesudah merangkak lagi beberapa meter sekonyong-konyong dia melihat sinar terang, namun terowongannya semakin sempit. Tiba-tiba saja tangannya menyentuh sesuatu benda yang keras, setelah lama diamati ternyata itu adalah sebuah kerangka kaki. Diam-diam hatinya menjadi ngeri sendiri.

"Mengapa terdapat kerangka kaki disini... Mungkinkan kerangka kaki manusia?... Apakah ini daerah tanah pekuburan?" Pikir Siauw Liong. "Jika begitu mungkin ada jalan keluar yang dibuat manusia disebelah depan sana" Hatinya menjadi lebih bersemangat.

Kerangka manusia itu bukan lain adalah kerangka-Kerangka Coe Tiang Leng yang terjepit di dalam terowongan itu. (Baca - Kisah Membunuh Naga atau To Liong To - Karya besar Chin Yung)

Dengan cepat dia terus menggali terowongan itu dan membuka jalan yang terhalangi oleh kerangka itu. makin terbuka terowongan itu, sehingga Siauw Liong dapat merangkak maju, tak lama kemudian didepan matanya terlihat sebuah lembah yang indah, dan aneka warna tumbuhan hidup disana.

Dengan cepat dia merangkak keluar dari terowongan. Karena terlalu bergembira Siauw Liong terjatuh dan bergulingan ke arah depan, rupanya lubang terowongan terpisah kira-kira 2 meter dari tanah.

Siauw Liong mengawasi sekitar lembah itu, dan akhirnnya menghampiri sebuah pohon yang tumbuh rindang. Karena perutnya terasa lapar sekali lalu dia memanjat pohon itu dan memetik beberapa buah. Dia duduk didahan pohon sambil mengunyah buah tersebut. Senja semakin mendekati malam, dan ketika Siauw Liong sedang berpikir mengenai kejadian yang menimpanya, bocah ini dikejutkan dengan suara yang nyaring menggetarkan.

Siauw Liong menoleh ke arah datangnya pekikan. Darahnya menjadi berdesir. Didepannya tampak berdiri seekor monyet berbulu putih yang bertubuh sangat tinggi dan besar sekali. Belum lagi Siauw Liong sempat berpikir untuk menyingkirkan monyet itu. tiba-tiba dengan mengeluarkan suara pekikan yang keras, monyet tersebut telah melompat menubruk kearah Siauw Liong.

Biarpun hatinya sangat takut dan ngeri melihat monyet itu menubruk kearahnya, Siauw Liong membiarkan dirinya ditubruk dan dipeluk oleh monyet itu. Malah si bocah mengulurkan tangannya mengusap-usap kepala monyet tersebut.

Sebetulnya pelukan monyet itu sangat keras sekali di pinggang Siauw Liong, mungkin juga monyet itu ingin mematahkan tulang pinggang si bocah.

Tetapi begitu kepalanya diusap-usap oleh Siauw Liong, si monyet seperti mengerti bahwa si bocah tak bermaksud jelek padanya, maka dari itu pelukannya perlahan-lahan jadi mengendur.

Monyet itu mengeluarkan suara yaNg aneh waktu kepalannya diusap-usap Siauw Liong. Mata binatang tersebut mengawasi Siauw Liong dengan sebentar-bentar mengeluarkan suara aneh, seperti sedang bertanya pada Siauw Liong.

Dengan senyum si bocah menggerak-gerakan tangannya, seperti juga Siauw Liong ingin menerangkan bahwa dirinya jatuh sedang tersesat.

Binatang monyet memang terkenal paling cerdas diantara binatang yang lain, dan monyet besar ini mungkin lebih cerdas lagi, karena dia seperti mengerti apa yang dipetakan oleh tangan Siauw Liong.

Monyet itu kemudian melepaskan pelukannya dan berlari-lari kecil sambil sebentar-sebentar menoleh dan melambaikan tangannya kearah Siauw Liong.

Siauw Liong mengerti, bahwa monyet ini akan memperlihatkan sesuatu atau sedang mengajaknya kesuatu tempat. Dan bocah ini jadi mengerti apakah tidak mungkin monyet ini akan memberitahukan kepadanya jalan untuk keluar dari lembah itu.

Maka cepat-cepat Siauw Liong menghampiri dan mengejarnya. Jauh juga monyet itu berlari-lari didalam lembah itu, masih belum juga dia berhenti.

Siauw Liong menjadi ragu-ragu, tetapi melihat monyet tersebut tidak bermaksud jahat kepadanya, maka akhirnya sibocah mengambil keputusan untuk mengikuti monyet itu kemana dia pergi, untuk mengetahui apa yang akan diperlihatkan oleh monyet itu.

Selagi sibocah mengejar monyet, kupingnya mendengar suara air terjun. Siauw Liong lalu berhenti mengejar monyet itu dan bergerak mendekati tepian kolam. Air itu adalah salju yang melumer dan mengalir ke bawah dari dinding batu ke sebuah kolam. Si Bocah mengagumi keindahan air terjun itu, dimana di bawah air terjun tersebut butir-butir air muncrat dengan indahnya, dan memantulkan cahaya-cahaya gemerlap. Tiba-tiba saja si monyet besar melompat dan menubruk belakang Siauw Liong. Si bocah terkejut, waktu dia menoleh kebelakang ternyata monyet besar itu telah mencengkram seekor katak besar berwarna merah, rupanya katak itu tadi di belakang Siauw Liong dan hendak menggigitnya.

Dengan lengannya yang kuat dan besar, monyet itu segera menumbuk katak merah itu sampai gepeng, lalu dilemparkannya ke samping. Siauw Liong merasa telah ditolong, dan segera memeluk binatang itu. "kau sangat lihat monyet besar !" Kata Siauw Liong berulang kali memuji monyet itu. Monyet itu seperti juga mengerti perkataan dan pujian Siauw Liong, sehingga mengeluarkan suara-suara yang bangga dan girang sekali kemudian berlari dan tak lama kemudian kembali sambil membawa sepasang buah tho yang besar.

---demonking---



Sebuah Kerangka di dalam Gua

    Tulisan ini adalah tulisan rintisan. Anda dapat membantu Cerita Silat untuk mengembangkannya.

Around Wikia's network

Random Wiki